infotabola.it.com – Nama Radja Nainggolan sudah lama dikenal pecinta sepak bola, khususnya penggemar Serie A. Gelandang berdarah Batak itu pernah jadi salah satu pemain paling garang di lini tengah Liga Italia. Gaya mainnya keras, penuh energi, dan nggak kenal takut saat duel di lapangan. Selama kariernya di Italia, Radja sempat memperkuat beberapa klub. Tapi yang paling melekat tentu saja ketika ia bermain untuk AS Roma dan Inter Milan. Dua klub besar tersebut menjadi panggung utama yang membuat namanya makin dikenal luas.
Read More : Chelsea Lepas 5 Pemain Sekaligus Musim Panas Ini
Menariknya, di tengah kariernya yang cukup panjang di Italia, Radja ternyata pernah dilirik oleh raksasa Turin, Juventus. Namun alih-alih menerima kesempatan itu, ia justru memilih menolak. Bahkan sampai sekarang, Radja terang-terangan mengaku tidak tertarik membela klub berjuluk I Bianconeri tersebut.
Karier Radja Nainggolan di Liga Italia
Sebelum jadi bintang di Roma, Radja sebenarnya memulai perjalanan dari klub-klub yang tidak terlalu besar. Ia pernah bermain untuk Piacenza Calcio, lalu berkembang bersama Cagliari Calcio. Di Cagliari inilah performanya mulai mencuri perhatian. Permainannya yang agresif membuat banyak klub besar mulai meliriknya. Puncaknya datang ketika ia bergabung dengan AS Roma pada tahun 2014. Bersama klub ibu kota Italia itu, Radja benar-benar mencapai masa emas kariernya. Ia jadi pemain kunci di lini tengah Roma selama empat musim, tepatnya dari 2014 sampai 2018.
Setelah itu, Radja sempat pindah ke Inter Milan pada musim panas 2018. Sayangnya, kariernya di sana tidak berjalan lama. Ia hanya bertahan satu musim sebelum akhirnya dipinjamkan ke klub lain. Meski begitu, pengalaman bermain di klub-klub besar Italia membuat namanya tetap dihormati sebagai salah satu gelandang tangguh yang pernah meramaikan Serie A.
Kenapa Radja Nainggolan Menolak Juventus?
Banyak pemain pasti bermimpi membela Juventus. Klub ini dikenal sebagai salah satu tim tersukses di Italia. Namun bagi Radja, justru sebaliknya. Ia mengaku tidak pernah tertarik pindah ke Juventus meskipun kesempatan itu pernah ada. Ada dua alasan utama yang membuatnya ogah merapat ke Turin.
1. Lebih Suka Tantangan daripada Tim yang Selalu Juara
Radja mengaku dirinya lebih menikmati tantangan. Ia merasa bermain di tim yang sedang mengejar gelar jauh lebih seru dibanding bergabung dengan tim yang hampir selalu juara. Di masa kejayaannya, Juventus memang sangat dominan di Serie A. Mereka bahkan sempat memenangkan liga sembilan musim berturut-turut. Menurut Radja, situasi seperti itu justru terasa kurang menantang.
Ia pernah mengibaratkan hal itu seperti bermain game manajer sepak bola. Jika memilih tim terbaik, peluang juara sudah hampir pasti. Tapi kalau memilih tim yang sedang berjuang, sensasinya jauh berbeda. Bagi Radja, memenangkan liga bersama Roma akan terasa seperti pesta besar yang dikenang lama. Sedangkan di Juventus, gelar juara hampir dianggap sebagai kewajiban setiap musim.
2. Pengalaman Kurang Enak dengan Keputusan Wasit
Selain alasan tantangan, Radja juga punya pengalaman pribadi yang membuatnya kurang suka dengan Juventus. Ia pernah merasa tim asal Turin itu beberapa kali diuntungkan oleh keputusan wasit. Pengalaman itu terjadi saat dirinya masih bermain untuk Cagliari dan kemudian Roma. Radja mengingat satu pertandingan ketika Cagliari bermain imbang 1-1 melawan Juventus. Dalam laga itu, Juventus mendapatkan penalti yang menurutnya sebenarnya tidak layak diberikan.
Hal serupa juga ia rasakan ketika sudah berseragam Roma. Dalam sebuah pertandingan di stadion Juventus, Roma kalah 3-2 setelah lawan mendapatkan dua penalti yang menurutnya berasal dari pelanggaran di luar kotak penalti. Menurut Radja, banyak orang sebenarnya melihat kejadian itu. Hanya saja tidak semua orang berani mengatakannya secara terbuka. Dari pengalaman-pengalaman itulah muncul perasaan kurang suka terhadap Juventus.
Rekor Pertemuan Radja Nainggolan vs Juventus
Sepanjang kariernya di Serie A, Radja cukup sering menghadapi Juventus. Total ia tercatat berduel melawan klub Turin itu sebanyak 19 kali. Sayangnya, hasilnya tidak terlalu bagus. Dari jumlah tersebut, Radja hanya meraih tiga kemenangan. Sisanya, ia mencatat lima kali hasil imbang dan harus menerima 11 kekalahan.Meski begitu, Radja tetap punya kenangan manis. Ia berhasil mencetak dua gol ke gawang Juventus selama pertemuan tersebut.
Bagi seorang gelandang bertahan, catatan itu tentu cukup membanggakan. Sekarang, di usia yang sudah menginjak 37 tahun, Radja memang tidak lagi bermain di level tertinggi seperti dulu. Namun cerita-cerita dari perjalanan kariernya tetap menarik untuk dibahas. Apalagi ketika ia berbicara jujur soal alasan menolak Juventus, sebuah keputusan yang mungkin jarang diambil pemain lain.