Juventus Bangkit Lagi dan Lagi, Mental “Fino Alla Fine” Masih Nempel Kuat

Juventus Bangkit Lagi dan Lagi, Mental “Fino Alla Fine” Masih Nempel Kuat

infotabola.it.com – Musim 2025–2026 bisa dibilang bukan perjalanan yang mulus buat Juventus. Bahkan, sejak Februari lalu performa tim asal Turin ini sempat bikin fans deg-degan tiap pertandingan. Hasil naik turun, kekalahan menyakitkan, sampai tersingkir dari dua kompetisi besar jadi ujian berat buat skuad asuhan Luciano Spalletti.

Read More : Aubameyang

Tapi menariknya, di tengah situasi yang nggak ideal itu, Juventus justru nunjukin satu hal penting: mental mereka belum habis. Bahkan bisa dibilang, jiwa pantang menyerah khas Si Nyonya Tua masih hidup dan terus kelihatan di lapangan.

Performa Juventus Lagi Turun, Tapi Mental Tetap Naik

Kalau lihat statistik, Juventus memang lagi nggak baik-baik saja. Dalam delapan pertandingan terakhir di semua ajang, mereka cuma mampu meraih dua kemenangan dan harus menerima empat kekalahan. Situasi makin berat setelah Juve tersingkir dari Coppa Italia dan juga Liga Champions. Namun, hasil akhir ternyata bukan satu-satunya cerita. Ada sisi lain yang bikin publik sepak bola tetap respek.

Juventus berkali-kali berhasil bangkit dari kondisi tertinggal. Istilah klasik mereka, “Fino alla fine” alias berjuang sampai akhir, benar-benar terasa nyata. Contohnya saat menghadapi Lazio pada 8 Februari 2026 di Serie A. Juventus sempat tertinggal 0-2 hingga pertandingan memasuki satu jam permainan. Banyak yang mengira laga sudah selesai. Eh ternyata belum. Juve pelan-pelan bangkit dan sukses menyamakan skor lewat gol dramatis di menit 90+6. Comeback yang bikin stadion langsung pecah.

Empat Comeback dalam 22 Hari, Bukti Juventus Belum Habis

Yang bikin makin menarik, comeback Juventus bukan cuma sekali. Dalam rentang sekitar 22 hari, mereka melakukannya sampai empat kali. Ini bukan kebetulan, tapi soal karakter tim.

Saat melawan Inter Milan pada 14 Februari, Juventus bahkan harus bermain dengan 10 orang sejak akhir babak pertama. Meski begitu, mereka dua kali berhasil menyamakan kedudukan setelah tertinggal. Sayangnya, gol di menit akhir membuat Juve tetap kalah 2-3. Walau kalah, semangat juangnya tetap dapat apresiasi.

Drama berlanjut di Liga Champions ketika menghadapi Galatasaray. Setelah kalah telak 2-5 di leg pertama, banyak yang pesimis Juventus bisa membalikkan keadaan. Tapi di leg kedua, mereka tampil gila-gilaan dan unggul 3-0 di waktu normal. Sayangnya, kartu merah lagi-lagi jadi masalah. Bermain dengan 10 pemain sejak awal babak kedua bikin tenaga terkuras. Juventus memang menang 3-2, tapi tetap gagal lolos karena agregat 5-7. Meski tersingkir, perjuangan mereka tetap dapat tepuk tangan.

Comeback terbaru terjadi saat menghadapi AS Roma pada 1 Maret 2026. Sampai menit ke-75, Juventus tertinggal 1-3. Situasi terlihat hampir mustahil. Namun seperti skenario yang mulai familiar, mereka bangkit lagi. Gol penyama kedudukan akhirnya lahir di menit 90+3 dan laga berakhir 3-3.

Spalletti Percaya Juventus Bisa Finish Kuat

Pelatih Luciano Spalletti mengaku puas dengan reaksi para pemainnya. Menurutnya, tim menunjukkan karakter yang kuat meski sering menempatkan diri dalam situasi sulit. Ia menilai mentalitas pemain justru semakin terlihat ketika berada di bawah tekanan. Bahkan saat bermain dengan 10 orang dalam beberapa pertandingan terakhir, Juventus tetap mampu memberikan perlawanan serius.

Spalletti juga menyoroti peran suporter yang terus memberi dukungan. Atmosfer dari tribun membuat para pemain merasa beban pertandingan jadi lebih ringan. Dukungan fans dianggap sebagai energi tambahan yang membantu tim tetap percaya diri. Sekarang Juventus hanya fokus di Serie A. Target utama jelas: finis di posisi empat besar agar bisa kembali tampil di Liga Champions musim depan.

Musim ini mungkin penuh drama, tapi satu hal sudah jelas. Juventus masih punya nyawa. Mereka boleh jatuh berkali-kali, tapi selalu berusaha berdiri lagi. Dan selama semangat Fino alla fine masih ada, Juve bakal terus jadi tim yang nggak pernah aman untuk diremehkan.