infotabola.it.com – AC Milan memang berhasil menang saat menghadapi Cremonese di pekan ke-27 Liga Italia, Minggu (1/3/2026) di Stadion Giovanni Zini. Tapi jujur aja, kemenangan itu terasa biasa banget. Nggak ada euforia besar, nggak ada permainan yang benar-benar bikin fans berdiri dari kursi. Tim racikan Massimiliano Allegri butuh waktu hampir satu pertandingan penuh buat akhirnya memecah kebuntuan. Bahkan gol pembuka justru datang dari bek, yaitu Strahinja Pavlovic di menit akhir laga.
Read More : France Fc
Baru setelah itu, Rafael Leão menambah gol di masa injury time. Itu pun terjadi karena Cremonese nekat naik terlalu tinggi demi cari gol penyama kedudukan. Jadi ya… bukan gol dari skema matang yang benar-benar dirancang sejak awal. Di sinilah masalah Milan mulai kelihatan jelas.
Serangan Milan Lagi Kurang Nendang
Kalau diperhatikan beberapa bulan terakhir, AC Milan sering banget tampil lambat panas. Dalam 10 pertandingan sejak awal tahun, I Rossoneri tercatat tujuh kali gagal mencetak gol di babak pertama. Buat klub sebesar Milan, statistik ini jelas bikin alis naik. Soalnya dulu mereka dikenal tajam sejak menit awal. Sekarang? Justru sering kelihatan bingung di sepertiga akhir lapangan.
Permainan terasa monoton. Aliran bola sering mentok sebelum masuk kotak penalti. Kreativitas yang biasanya muncul dari lini depan seperti hilang arah. Dan satu nama yang paling terasa absennya kontribusi itu adalah Christian Pulisic.
Kapten Amerika yang Tiba-Tiba Menghilang
Di paruh pertama musim, Pulisic bisa dibilang mesin serangan Milan. Julukan “Kapten Amerika” bukan sekadar gimmick. Dia benar-benar jadi pembeda di lapangan. Dalam 17 laga awal Liga Italia, pemain kelahiran 18 September 1998 ini sukses mencatatkan 8 gol dan 2 assist. Angka yang solid banget untuk pemain sayap.
Bahkan beberapa kemenangan penting Milan datang berkat kontribusinya. Saat melawan Udinese, Napoli, hingga Hellas Verona, peran Pulisic terasa dominan sejak menit awal. Gol cepat atau assist darinya sering bikin Milan langsung pegang kendali pertandingan. Tapi setelah pergantian tahun… grafiknya langsung turun drastis.
Sejak terakhir mencetak gol pada 28 Desember, Pulisic sudah menjalani sembilan pertandingan tanpa gol maupun assist. Buat pemain yang sebelumnya konsisten, ini jelas jadi tanda tanyabesar. Fans mulai bertanya-tanya: ini cuma penurunan performa biasa atau ada masalah lain?
Jadwal Berat Sudah Menanti Milan
Masalahnya, waktu buat mencari solusi nggak banyak. AC Milan bakal menghadapi deretan laga panas melawan rival langsung perebut tiket Liga Champions. Nama-nama besar seperti Inter Milan, Napoli, Juventus, dan Atalanta sudah menunggu di depan. Menariknya, pada pertemuan pertama musim ini, kemenangan Milan atas Inter dan Napoli sangat dipengaruhi kontribusi langsung dari Pulisic. Artinya, ketika pemain asal Amerika Serikat itu tampil tajam, Milan ikut naik level.
Sebaliknya, saat performanya redup, serangan Milan ikut kehilangan arah. Kalau situasi ini terus berlanjut, Milan bisa kesulitan menjaga posisi di papan atas klasemen. Apalagi persaingan menuju zona Liga Champions musim ini super ketat. Singkatnya, Milan sekarang bukan cuma butuh kemenangan. Mereka butuh Pulisic versi awal musim, yang berani menusuk, kreatif, dan klinis di depan gawang. Karena tanpa kontribusi gol dan assist dari sang Kapten Amerika, serangan Rossoneri terasa setengah hidup.
AC Milan memang masih mampu meraih kemenangan, tapi performa tim belakangan ini jelas belum meyakinkan. Masalah utama bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan bagaimana proses mencetak gol yang terasa makin sulit. Serangan Milan terlihat kurang tajam, lambat berkembang, dan minim kreativitas di momen penting.
Mandeknya kontribusi Christian Pulisic jadi salah satu faktor yang paling terasa. Saat Pulisic tampil tajam di awal musim, Milan mampu menekan lawan sejak menit pertama. Namun sekarang, absennya gol dan assist dari sang Kapten Amerika membuat daya gedor Rossoneri ikut menurun.
Dengan jadwal berat yang sudah menanti, AC Milan jelas butuh solusi cepat. Kebangkitan performa Pulisic bisa jadi kunci agar permainan kembali hidup dan konsisten. Kalau sang winger mampu menemukan lagi sentuhan terbaiknya, peluang Milan untuk tetap bersaing di papan atas dan mengamankan tiket Liga Champions tentu masih sangat terbuka.